Simply Noah

noah

Saya emang salah satu orang yang suka sama sesuatu di awal ngerasain. Dulu suka sama Manchester United karena pertama kali lihat pertandingan mereka. Begitupun dengan grup band. Peterpan adalah grup band mainstream pertama yang saya dengarkan dan langsung suka.

Masih ingat dulu pertama kenal Peterpan pas masih SD. Dulu Ariel begitu diidolakan oleh orang-orang. Banyak yang beli poster dan fotonya. Tapi saya gak sampe beli posternya. Hanya suka dengerin aja.

Mungkin anak jaman sekarang bakal bilang.

“Sumpah demi apa suka sama noah?”

Yaa. Saya suka. Kenapa saya suka? jelas karena musikalitasnya dan lirik-lirik lagunya.

Coba kita dengarkan bagaimana lagu noah. Selalu easy listening. Tapi juga penuh dengan lirik syarat makna. Contoh aja lagu Walau Habis Terang. Mereka bisa aja ngasih judul “Gelap”. Tapi mereka lebih memilih itu. Ada lagi lagu Separuh Aku yang menjadikan definisi baru bagi ucapan mainstream Belahan Jiwa,

Coba cek lagi potongan lirik berikut :

Pikiranku, tak dapat kumengerti Kaki di kepala, kepala di kaki. Pikiranku, patutnya menyadari Siapa yang harus, dan tak harus kucari… – Diatas Normal (2004)

Mengapa hidup begitu sepi Apakah hidup seperti ini Mengapa ku selalu sendiri Apakah hidupku tak berarti Coba bertanya pada manusia Tak ada jawabnya Aku bertanya pada langit tua Langit tak mendengar… – Langit Tak Mendengar (2005)

Sebuah lirik yang menurut saya sangat indah. Tapi dilagukan dengan sesuatu yang simple.

Selain itu, konsep videonya juga bagus. Coba cek video Menghapus Jejakmu yang menurut saya sangat simple tapi masuk.

Oke. Itulah Noah. Tetap suka walaupun jujur beberapa tahun belakangan lebih mendayu-dayu. Tapi gapapah. Semoga tetap berkarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like