Review : YOWIS BEN

Yowisben adalah salah satu film yang membuat saya penasaran sejak awal mulai dipromosikan oleh Bayu Skak di akun IG nya. Dan sempet ragu apa film ini bakalan tayang di Kalimantan. Ternyata ketika saya cek di Cinemaxxx ada. Dan langsung saya ajak beberapa teman yang notabene sama-sama merantau untuk nonton Yowisben. Dan ada juga temen saya yang dari Makassar dan Batak. Mereka ngerti atau nggak? saya gatau. Kenapa? karena 90 % film ini adalah bahasa Jawa. Lebih tepatnya jawa timur.

Film Yowisben ditulis lansung oleh Bayu Skak dan disutradarai oleh Bayu Skak sendiri berkolaborasi dengan Fajar Nugros. Film ini dibintangi oleh Bayu Skak, Josua Suherman, Cut Meyriska, Brandon Salim, Arief Didu, Indra Wijaya dan Tutus Thomson. Film ini dirilis secara serentak 22 Februari 2018 di seluruh Indonesia.

Yuk dicek dulu Trailernya :

Diceritakan Bayu, seorang anak SMA yang sehari-hari membantu ibunya berjualan nasi pecel di sekolahnya. Karena berjualan pecel itulah Bayu sering disebut Pecel Boy. Bayu punya sahabat bernama Doni. Bayu dan Doni suatu saat makan di kantin dan melihat Susan. Bayu sangat tertarik dengan Susan. Malamnya, Bayu diline sama Susan. Ternyata dia mau beli nasi pecel dari Bayu untuk kegiatan OSIS. Susan pengen diskon, Bayu menyanggupi meskipun ibunya tidak setuju. Bayu pun memecahkan tabungannya untuk memberi diskon kepada Susan. Dari sinilah kita tahu, bahwa wanita cukup mematikan.

Oke lanjut!

Bayu sudah berdandan, berpakaian warna-warni, memakai gincu biar kaya artis korea. (well ini agak aneh sih, tapi ini lucunya). Persis dengan yang kita lihat di Trailer. Tapi Bayu mendapat perlakuan yang kurang enak. Ia diabaikan oleh Susan. Habis manis sepah dibuang.

Dari situlah Bayu ingin menjadi seseorang yang tidak mudah diremehkan. Ia membuat sebuah Band dengan Donny. Yayan masuk dengan cara Audisi, dan Nando yang diceritakan anak paling ganteng juga ikut bergabung. Ia ingin dihargai bukan karena kegantengannya, tapi karena karyanya. Hingga akhirnya jadilah Band dengan nama Yowisben.

Konflik silih berganti, mulai dari gagalnya di kompetisi pertama dan aneka romansa percintaan. Naik dan turun.

Penasaran? langsung tonton di Bioskop terdekat!.

SANGAT LUCU

Rahang saya benar-benar sakit karena gak berhenti ketawa dari awal sampai akhir. Guyonan yang khas Jowo Timuran menjadi akses yang sangat kental. Benar-benar hal yang saya rindukan. Apalagi adanya kameo Cak Sapari dan Kartolo yang seakan-akan saya melihat ludruk yang sudah tidak pernah saya lihat beberapa tahun belakangan ini.

Musik yang bagus

Salah satu poin yang saya garis bawahi adalah bagaimana musik yang diolah menjadi cerita memiliki nilai tersendiri bagi pendengarnya. Benar-benar membuat kita terngiang-ngiang sampai keluar bioskop. Teman saya aja nyanyi itu terus dari kemarin.

Beberapa lagunya antara lain : Mangan Pecel, Konco sing Apik, Gak Iso Turu, Ojo Bolos Pelajaran.

Ternyata lagu Ojo Bolos Pelajaran adalah kerjasama dengan kemdikbud.

Mengenalkan Malang

Mungkin ada pesan terselubung dari Bayu Skak. Yaitu mengenalkan Malang. Malang mungkin jarang banget tampil di bioskop atau FTV, nah inilah saatnya. Syuting rumahnya bayu aja di Jodipan, kampung warna-warni yang dulunya adalah kampung kumuh di pinggir sungai. Selain itu, ada juga musium angkut yang sangat ikonik di Malang saat ini.

Kental Rasa Jawa Timur dan Bahasa Kiwalan

Penggunaan bahasa Jawa Timur di film ini sangat kental. Boso meso bertebaran di mana-mana.

Contohnya :

“Yo iki wes banter cok!”

Selain itu, ada juga bahasa kiwalan. Atau bahasa yang dibalik. Contohnya:

Tencrem -> Mencret

Tahes ->Sehat

Bahkan ada suatu saat pemeran yang gak kita sangka bakalan meso akan ikutan meso. Kon ero a meso iku opo? Meso iku meso…. meso karo sabun~

Cerita?

Kalo secara cerita boleh dibilang masih banyak yang bisa digali. Konflik yang layaknya cinta monyet yang udah sangat gampang ketebak. Tapi ini adalah Feel Good Movie. Film yang rasanya enak banget buat ditonton. Keluar bioskop rasanya bener-bener enak. Sampe bingung saya deskripsinya.

Di film ini mengajarkan bagaimana caranya agar kita memaknai hidup terutama dari Ibunya Bayu yang menurut saya sangat wise. Lalu teman-teman Bayu yang sangat suportif. Sebuah pertemanan sehat.

Sinematografi yahud

Mas Goenrock benar-benar DOP yang jempolan. Semua scene terasa sangat halus dan bagus. Gimana kita bisa dibangkitkan suasana. Selain itu, penata artistiknya juga bagus. Scene main Band bener-bener terasa atmosfir ketika main Band.

Overall cukup puas. Ada perasaan bangga. Keluar bioskop rasanya itu tadi beneran bahasa jawa semua? Kalo kamu orang jawa, bisa dipastikan kamu akan ngakak dengan film ini.

Selamat menonton!

 

 

Comments

comments

satriahelmy

Blogger

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *