Review Film : Setip dan Pensil

Halo guys. Liburan ini saya nonton film lagi. Judulnya Setip dan Pensil. Film ini dibintangi oleh Ernest Prakasa, Ardit Erwandha, Tatjana Saphira dan Indah Permatasari. Film ini karya dari Sutradara Ardy Octaviand.

Film ini berkisah tentang 4 anak SMA yang dimusuhi oleh anak di sekolahnya. Mereka adalah Toni, Iga, Bubu dan Saras. Mereka terkenal sombong karena mereka adalah anak dari orang kaya. Suatu hari, mereka berempat mendapatkan tugas menulis essay berkelompok. Dan akan dipilih 2 essay terbaik yang mewakili sekolah untuk berkompetisi di tingkat nasional.

Mereka pun berjalan-jalan dan mencari inspirasi. Akhirnya mereka bertemu Ucok, pengamen cilik asal medan yang menipu mereka. Berkat Ucok-lah, mereka akhirnya membuat essay tentang pentingnya pendidikan anak-anak kecil di jalanan. Berkat tema yang bagus, akhirnya mereka terpilih mewakili sekolah mereka.

Tapi ternyata tidak berhenti sampai di situ. Semua yang ada di essay harus mereka pertanggungjawabkan dan direalisasikan. Merekapun akhirnya membangun sekolah darurat. Mereka membangun bangunan dan diisi kursi meja dan papan tulis layaknya sebuah sekolah.

Namun, perjalanan mereka tidak mudah. Di hari pertama, tidak ada anak yang datang. Padahal mereka sudah menyebarkan poster dan flyer yang berisi tulisan pengumuman. Namun, mereka lupa, bahwa anak jalanan tidak bisa membaca dan menulis. Hari kedua, mereka mendapat musibah dengan kursi sekolah hilang entah ke mana.

Lalu bagaimana hari-hari selanjutnya?

Kocak dan Humor Segar

Secara umum memang film ini memberikan humor yang nyeletuk tiba-tiba bikin ngakak. Humor sederhana tapi cerdas. Ciri khas stand up comedy. Mungkin faktor Ernest Prakasa berperan di sini. Selain itu juga ada beberapa stand up comedian seperti Arie Kriting.

Pentingnya Pendidikan bagi Anak

Bisa dibilang, ini juga merupakan potret pendidikan anak Indonesia. Begitu banyak banget anak sekolah yang lebih memilih mengamen daripada sekolah. Keterbatasan akses fasilitas, kurangnya kesadaran orang tua, dan faktor ekonomi yang sangat terasa. Akhirnya Toni dkk ini mencoba membantu. Tapi sayangnya juga kurang peminat.

Ketulusan Mengabdi

Dari film ini kita belajar arti ketulusan. Mungkin kita mengerjakan sesuatu karena emang karena pengakuan. Tapi ternyata ada loh sesuatu yang lebih bernilai daripada itu. Dan mereka pun menyadarinya. Mereka lebih memilih melihat tatapan mata yang bersinar dari anak-anak ketika berhasil membaca daripada sebuah penghargaan tingkat nasional.

Oke mungkin itu saja sedikit ulasan tentang Stip dan Pensil. Menurut saya ini adalah salah satu film terbaik dan masuk dalam Feel Good Movie. Yuk tonton sebelum kehabisan di bioskop terdekat.

Yuk support film-film Indonesia.

 

Comments

comments

satriahelmy

Blogger

4 Comments

  1. “Mungkin kita mengerjakan sesuatu karena emang karena pengakuan. Tapi ternyata ada loh sesuatu yang lebih bernilai daripada itu. Dan mereka pun menyadarinya.”
    → Nggak bisa dipungkiri, manusia melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri. Tapi bukan berarti nggak bisa punya manfaat buat orang lain, ya ^^

    Boleh juga coba nonton. Mumpung di Jogja masih tayang.

    • iya kat, fitrahnya emang gitu. Termasuk saya juga.

      Nonton kat, mayan lah lucunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *